30 Maret 2014

Generasi Penerus Riau Bisa Cacat Otak

KEBAKARAN lahan dan hutan di Riau telah berdampak serius bagi kesehatan. Sedikitnya 60 ribu warga Riau bertumbangan dan harus berobat di puskesmas dan rumah sakit karena menderita penyakit infeksi pernapasan saluran akut (ISPA), iritasi mata, kulit, dan demam.

Dari hasil penelitian, kabut asap dari hasil pembakaran lahan dan hutan bisa menyebabkan generasi penduduk Riau cacat otak alias idiot.

Ahli paru RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru, Azizman Saad pun angkat bicara soal itu. Menurutnya, kondisi kabut asap yang mengakibatkan kualitas udara pada level berbahaya membuat Riau tidak layak lagi dihuni 6 juta masyarakat.
baca : Dokter Paru Menyarankan Pemerintah untuk Ungsikan Warga Riau

“Seharusnya seluruh masyarakat Riau ini sudah diungsikan semua. Pemakaian masker pun sudah tidak berguna menangkal partikel berbahaya dari kabut asap,“ ujarnya.

Setelah 40 tahun, kata Azizman, masyarakat di Riau yang setiap tahun menghirup asap akan mudah mengalami sesak napas. Penyebabnya kandungan 4.000 zat berbahaya yang ada pada asap kebakaran hutan setara dengan asap rokok yang dipadatkan.
“Partikel zat berbahaya seperti metana dan CO2 dari pembakaran hutan membuat sel-sel otaknya tak berkembang.
Dalam jangka panjangnya, otak pada janin manusia akan mengecil serta pertumbuhan otak bayi tidak maksimal,“ paparnya. Azizman pun mengkritik kualitas masker yang dibagikan pemerintah pusat dan daerah di Riau tidak sesuai dengan standar kesehatan untuk kabut asap. Masker tipis biru putih itu tidak bisa menangkal partikel-partikel kecil berbahaya dari asap.
“Masker yang efektif itu sama seperti masker fl u burung, yaitu N-95. Masker yang dibagikan sekarang, sama saja, tidak berguna,” ungkapnya.

Untuk mencegah terjadinya bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Gubernur Riau Annas Maamun berinisiatif membentuk tim pemadam kebakaran di tingkat desa agar mencegah kebakaran hutan dan lahan lebih luas.
Dari setiap desa akan direkrut tiga tenaga pemadam kebakaran dengan honor Rp300 ribu per bulan. “Ada-tidaknya kebakaran, mereka tetap diberi honor,” ucapnya.

Saat ini di Riau ada sekitar 1.776 desa.
Akan ada 5.000 lebih tenaga honorer pemadam kebakaran. Janji Annas pun tidak hanya membentuk petugas pemadam kebakaran. Ia berjanji akan melengkapinya dengan peralatan dan mobil pemadamannya.
Namun, ada cara lain yang bisa mencegah terjadinya kebakaran hutan, yakni melakukan prosedur pembukaan lahan dan hutan berkelanjutan. Indra Gunawan, Head of Sustainability and Fire PT Riau Andalan Pulp and Peper
(RAPP), mengungkapkan pihaknya sejak beroperasi sudah menerapkan kebijakan pembukaan lahan tanpa bakar. Untuk kebijakan tersebut, perusahaan hutan tanam an industri (HTI) itu memang harus mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp7 juta untuk tiap hektarenya.

“Perusahaan berinvestasi sekitar US$6 juta untuk kebijakan tanpa bakar ini serta mengeluarkan biaya Rp2 miliar setiap tahunnya untuk pemeliharaan dan perawatan peralatan. Memang biayanya besar, tapi kami berpikir untuk lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam pengelolaan hutan lestari,“ ujarnya.

Pada bagian lain pakar gambut dari ITB, Basuki Sumawinata, mengatakan teknologi ecohydro menjadi salah satu solusi untuk mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Teknologi itu mampu menjaga ketinggian muka air di lahan gambut. Pembuatan kanal-kanal pada lahan gambut dengan teknologi itu tidak boleh memotong kontur permukaan kawasan.

“Dengan teknologi ini, gambut bisa dibuat tetap lembap pada musim kemarau sehingga mengurangi risiko terbakar,“ ujarnya.
Teknologi itu banyak digunakan perusahaan hutan tanaman industri. Namun, sudah selayak pemerintah menerapkan berbagai alternatif pencegahan kebakaran lahan agar bencana tahunan ini tidak menjadi kebiasaan. (BG/RK/N-3/MEDIA INDONESIA,26/03/2014,HAL : 23)